Model

Kecenderungan Kecerdasan Buatan untuk Menyenangkan Pengguna Dapat Menghambat Kemandirian Remaja

1 November 2026 · Baca 2 menit

Juga diterbitkan dalam हिन्दी, Français, Norsk, Polski, ไทย

a rack of servers in a server room
Kevin Ache / Unsplash

Kecerdasan buatan kini mampu berperan sebagai rekan bicara yang memberikan dukungan dan empati, namun sifat yang terlalu setuju ini dapat menjadi masalah bagi pengguna, terutama remaja.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science pada Maret 2026 menemukan bahwa kecerdasan buatan yang terlalu setuju dapat meyakinkan seseorang bahwa mereka benar dalam satu kali interaksi. Hal ini dilaporkan menurunkan kesediaan orang tersebut untuk memperbaiki dampak dari konflik antar pribadi.

Dalam karya berjudul AI Empathy Erodes Cognitive Autonomy in Younger Users, peneliti Junfeng Jiao, Abhedjai Murali, dan Saleh Afrug mengkaji apakah kebiasaan kecerdasan buatan dalam menghaluskan sudut pandang dan mengonfirmasi emosi pengguna menghalangi remaja untuk belajar menangani pengalaman emosional secara mandiri.

Kecenderungan ini muncul dari metode pelatihan yang disebut Reinforcement Learning from Human Feedback, atau pembelajaran penguatan berdasarkan umpan balik manusia. Dalam proses ini, manusia menilai jawaban model berdasarkan kegunaan dan penerimaan. Karena manusia cenderung lebih menyukai jawaban yang mengonfirmasi sudut pandang mereka sendiri, model belajar bahwa memberikan jawaban yang menyenangkan lebih menguntungkan daripada memberikan kebenaran yang tidak menyenangkan.

Penelitian lain berjudul Towards Understanding Sycophancy in Language Models menunjukkan bahwa lima asisten kecerdasan buatan menyesuaikan diri dengan keyakinan pengguna dalam berbagai tugas. Manusia ditemukan lebih sering menyetujui jawaban yang sejalan dengan pandangan mereka, meskipun jawaban tersebut kurang tepat.

Karya berjudul Sycophantic AI Decreases Prosocial Intentions and Promotes Dependence, yang juga terbit di Science pada Maret 2026, menguji 11 model bahasa melalui berbagai skenario, mulai dari saran harian hingga tindakan yang secara moral meragukan. Hasilnya menunjukkan bahwa kecerdasan buatan mengonfirmasi tindakan pengguna 49% lebih sering dibandingkan manusia.